SOAL UJIAN : Dr. Soejanto Sandjaja
1. Bandingkan paling sedikit tiga hal antara tes prestasi dan tes bakat di sekolah.
2. Buat promosi mengenai home schooling di Semarang yang berisi apa itu home schooling dan enam persyaratan mengikuti home schooling
JAWABAN
1. Perbandingan antara tes prestasi dan tes bakat di sekolah
Tes Prestasi di Sekolah
1. Tujuan : Tes prestasi disekolah bertujuan untuk mengukur prestasi atau hasil yang telah dicapai siswa dalam belajar
2. Fungsi Tes prestasi belajar di sekolah ada 4 yaitu :
· Fungsi Penempatan :
→ penggunaan hasil tes prestasi belajar untuk klasifikasi individu kedalam bidang atau jurusan yang sesuai dengan kemampuan yang telah diperlihatkannya pada hasil belajar yang telah lalu, misalnya penggunaan nilai rapor kelas 2 SMA untuk menentukan jurusan studi di kelas 3.
· Fungsi formatif:
→ penggunaan hasil tes prestasi belajar guna melihat sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pelajaran. Dalam hal ini hasil tes prestasi merupakan umpan balik ( feed back ) kemajuan belajar dank arena itu biasanya tes diselenggarakan ditengah jangka waktu suatu program yang berjalan. Hasil tes formatif dapat menyebabkan perubahan kebijakan mengajar atau belajar. Misalnya tes prestasi yang berfungsi formatif adalah ujian tengah semester diperguruan tinggi atau hasil tes belajar disetiap catur wulan setiap semester.
· Fungsi Diagnostik :
→ Dilakukan oleh tes prestasi apabila hasil tes yang bersangkutan digunakan untuk mendiagnosis kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi kelemahan-kelemahan siswa yang dapat diperbaiki segera.
· Fungsi Sumatif :
→ penggunaan hasil tes prestasi untuk memperoleh informasi mengenai penguasaan pelajaran yang telah direncanakan sebelumnya dalam suatu program pelajaran. Tes ini merupakan pengukuran akhir dalam suatu program dan hasilnya dipakai untuk menentukan apakah siswa dapat dinyatakan lulus dalam program pendidikan, atau apakah siswa dapat dinyatakan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
3. Keterbatasan Tes Prestasi
Obyek ukur tes prestasi adalah aspek mental psikologis atau atribut nonfisik dan karenanya user tidak dapat mengharapkan hasil pengukuran yang akurat sekali. Pada umumnya , apa yang dapat dicapai dari oleh tes prestasi adalah semacam estimasi mengenai posisi relative (relative standing) atau jenjang urutan individu menurut tingkat kemampuan atau tingkat performansinya pada suatu tugas yang kadang-kadang tidak dapat dibatasi dengan jelas.
Untuk interprestasi hasil tes psikologi umumnya dan tes prestasi belajar khususnya digunakan mean, deviasi standar, dan angka-angka korelasi namun skala pengukuran yang digunakan dalam tes semacam itu biasanya tidak dapat dinyatakan dalam satuan atau unit ukur yang mengandung arti kuantitatif maupun kualitatif yang bermakna pasti.
4. Beberapa prinsip dasar dalam pengukuran tes prestasi
· Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan instruksional ↔ prinsip ini menjadi langkah pertama dalam penyusunan tes prestasi belajar, yaitu langkah pembatasan tujuan ukur identifikasi dan pembatasan tujuan ukur harus bersumber dan mengacu pada tujuan instruksional yang telah digariskan bagi suatu program.
· Tes prestasi harus mengukur suatu sample yang representative dari hasil belajar dan dari materi yang dicakup oleh program instruksional atau pengajaran.↔ perwujudan soal tes dalam bentuk item-item yang mewakili kesemua pertanyaan mengenai materi plajaran yang secara teoritik mungkin ditulis.
· Tes prestasi harus berisi item-item dengan tipe yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang diinginkan↔ hasil belajar yang hendak diukur akan menentukan tipe perilaku yang harus diterima sebagai bukti tercapainya tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
· Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan tujuan penggunaan hasilnya ↔ berkaitan dengan fungsi evaluasi yang dimiliki oleh masing-masing tes. Untuk tes yang hasilnya akan digunakan sebagai dasar penempatan (placement) biasanya diperlukan item yang tidak terlalu tinggi taraf kesukarannya dan cakupannya pun tidak perlu luas.
· Reliabilitas tes prestasi harus diusahakan setinggi mungkin dan hasil ukurnya harus ditafsirkan dengan hati-hati↔ Reliabilitas (keterpercayaan) hasil ukur merupakan salah satu cirri kualitas tes yang tidak dapat diabaikan. Sejauhmana pengukuran yang dilakukan oleh tes dapat diandalkan dan dipercaya akan banyak berpengaruh terhadap penafsiran hasil ukurnya.
· Tes prestasi harus dapat digunakan untuk meningkatkan belajar anak didik↔ Bila hasil tes prestasi secara akurat dapat mencerminkan pencapaian tujuan instruksional dan bila tes prestasi dapat mengukur sample hasil belajar dengan layak maka pengaruh positif pengadaan tes prestasi bagi peningkatan belajar akan dapat diharapkan secara maksimal.
Tes Bakat Di Sekolah
1. Tujuan : Tes bakat diberikan di sekolah bertujuan untuk membantu siswa untuk mengungkap potensi-potensi yang ada untuk belajar beberapa macam aktivitas tertentu, juga membantu merencanakan dan membuat keputusan mengenai pilihan pendidikan dan pekerjaan, dimana dari hasil tes bakat diperoleh gambaran mengenai seseorang didalam berbagai bidang kemampuan.
2. Peranan Tes Bakat di Sekolah :
Setelah tes bakat diberikan pada para siswa diharapkan siswa dapat memahami bakat-bakat yang dimilikinya berdasarkan profil hasil pengukuran tes bakat. Maka tes bakat ini berperan sebagai bahan informasi yang bermakna dan akurat kepada siswa terutama dalam membantu mereka mengambil jenis-jenis keputusan yang bersangkut paut dengan pemilihan program (jurusan), memilih studi setelah tamat sekolah, serta karir-krir yang perlu dipertimbangkan untuk memasuki masa depan yang lebih cerah. Sedangkan bagi sekolah skor tes bakat akan berfungsi terutama untuk membantu menentukan siswa-siswa manakah yang sesuai untuk ditempatkan kedalam program-program tertentu. Sehubungan dengan cara berfungsinya tes bakat, ada 2 jenis bakat yaitu :
· Bakat mengenai kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan khusus, seperti bakat musik.
· Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu, seperti keampuan melihat ruang yang diperlukan merealisir bakat teknik.
3. Kelemahan Tes Bakat
- Tes ini bukan merupakan predictor yang sempurna sebab tes ini bukanlah merupakan jaminan mutlak kepada para siswa yang memiliki skor yang tinggi akan berhasil, karena masih banyak factor lainnya yang berpengaruh.
- Karena tes bakat tidak dapat menentukan dengan mutlak studi, karier dan pekerjaan yang harus dijalani, disisi lain tes bakat juga tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan secara khusus, misalnya “Dapatkah saya menjadi seorang dokter?”
4. Prinsip dasar dan Pertimbangan umum pelaksanaan tes Bakat
· Perencanaan adalah bersifat esensial ↔ Siswa yang akan dites bakat hendaknya dengan perencanaan administrative yang adekuat dengan kondisi fisik yang memuaskan. Tester memusatkan perhatian pada persiapan pendahuluan dan persiapan kondisi fisik yang sebaik mungkin sebagai langkah awal dalam banyak program testing yang baik.
· Pengaturan Waktu ↔ agar memperoleh skor dalam suatu tes bermanfaat, diperlukan administrator mengikuti batas waktu yang telah ditetapkan, penting sekali terutama untuk tes kecepatan dan ketelitian klerikal yang memiliki batas waktu yang singkat.
· Mempersiapkan Material ↔ sebelum sessi testing, sebaiknya disusun semua bahan-bahan atau materi testing. Jumlah tes dan lembar jawaban yang akan digunakan dalam tiap kelompok hendaknya dihitung kembali dan dimasukkan dalam amplop besar dengan diberi tanda dan informasi tertentu, seperti nomor ruangan, guru, buku tes 1 atau 2, dan form tanggal dan waktu testing.
· Kondisi-kondisi Fisik ↔ Para siswa yang akan dites hendaknya memiliki tempat kerja yang permukaannya rata, tempat semestinya cukup luas, sehingga siswa cukup leluasa membuka tes dan lembar jawaban dan dapat menggunakannya tan ada gangguan.
2. Membuat promosi mengenai home schooling di Semarang yang berisi apa itu home schooling, lima manfaatnya dan enam persyaratan mengikuti home schooling?
Sample of promotion for home schooling program at Semarang (dalam bentuk Brosur)
“ Program Home Schooling di kota Semarang …….Langkah prospektif”
Semarang sebagai jantung ibukota Jawa tengah tentu menjadi pusat perhatian bagi tolak ukur keberhasilan kotanya, hal ini bisa dilihat dari banyak sisi dari masalah social ekonomi, keamanan, iklim yang kondusif dan yang pasti masalah dunia pendidikan yang kian berkembang maju di kota semarang. Program pendidikan yang cukup menarik dan menjadi perhatian khusus dari kalangan intelektualitas di kota Semarang adalah program home schooling yang sepertinya sampai saat ini belum terbidik oleh banyak kalangan masyarakat kota Semarang.
Untuk menelaah lebih jauh tentang bagaimana pendidikan home schooling bisa lebih progresif berkembang di jawa Tengah khususnya kota Semarang, tentu tidak terlepas dari paradigma masyarakat Semarang yang cenderung mulai kritis dan selektif dan tentunya lebih evaluatif terhadap hasil yang sudah dicapai oleh pendidikan formal yang dikemas dan didesain oleh pemerintah. Realitas yang perlu dicermati mengapa pendidikan home schooling bisa menjadi pilihan alternative masyarakat karena timbulnya kesadaran bahwa pola pendidikan formal di Negara kita belum menyentuh substansi kebutuhan riel dan tantangan dalam era globalisasi yang harus direspon secara berkualitas oleh peserta didik dengan menyiapkan kompetensi yang relevan dan obyektif terhadap kebutuhan skill ketika mereka beraktivitas (bekerja atau berwirausaha).
Masyarakat Semarang perlu mengetahui dan memahami tentang fleksibilitas konsep pendidikan home schooling yang mengacu kepada kompetensi praktis hubungan antara ketertarikan atau kemauan dan hobby individual (siswa) dengan orientasi cita-citanya untuk bekerja dan menguasai bidang-bidang tertentu yang menjadi harapannya dalam bekerja. Fleksibilitas tersebut juga diukur dari metode belajar mengajar yang tidak “terbelenggu” oleh dimensi ruang dan waktu secara formal serta menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik. Dengan kata lain konsepsi Link and mach cenderung lebih efektif jika para siswa belajar dalam tataran konsep pendidikan model home schooling.
Tinggal persoalannya adalah sejauh mana masyarakat kota Semarang lebih selektif memilih pendidikan home schooling ini, tidak semata-mata karena prestise atau status sosial yang memang biaya pendidikan home schooling cukup tinggi. Melainkan karena adanya kesadaran dari masyarakat yang kian memahami bagaimana dinamika pendidikan di era gobalisasi ini yang menuntut kualitas dan budaya mondial yang berkaitan dengan skill dan kompetensi. Kredibilitas program home schooling bukan hanya diukur dari tingkat fleksibilitas dan kesan informalistik dengan nuansa yang lebih persuasive dan menyenangkan, dimensi belajar mengajar yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu dengan model on the job method maupun of the job method, garansi dan konsepsi link and mach dengan dunia usaha. Tingkat kredibilitas program pendidikan home schooling juga didasarkan atas legitimasi yang diberikan pemerintah.
Dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang program home schooling, sangatlah optimis bahwa warga Kota Semarang tentunya akan mengapresiasi secara positif dengan mengambil langkah maju untuk memilih program pendidikan home schooling sebagai alternative pendidikan yang prospektif pada masa yang akan datang.
Manfaat-Manfaat mengikuti Program Home Schooling :
1. Lebih Efisien → program home schooling akan jauh lebih efektif karena anak yang mengikuti program tersebut dapat memiliki waktu lebih banyak untuk belajar dan mengerjakan sesuatu dibandingkan disekolah. Dengan belajar dirumah anak tidak perlu menghabiskan waktu yang tidak efektif untuk perjalanan menuju ked an kembali dari sekolah dan melakukan persiapan-persiapan rutin lainnya. Dengan adanya waktu lebih banyak kesempatan buat anak mengeksplorasi hal-hal edukatif lain yang sesuai dengan minatnya.
2. Dapat mencegah pelajaran berulang→ Dalam kurikulum sekolah konvensional seringkali anak-anak dihadapkan pada bahan pelajaran yang disampaikan berulang dalam waktu yang cukup lama, seperti mata pelajaran ppkn yang terus diajarkan dari bangku kelas 1 sampai kelas 4 dengan materi yang diulang.
3. Mempunyai kesempatan untuk memperoleh perhatian yang lebih personal→dengan program home schooling orang tua dapat memberikan perhatian dan bantuan personal pada anak-anaknya, seperti memberikan perhatian lebih pada mata pelajaran yang masih sulit untuk dikuasai dan mengurangi waktu untuk pelajaran yang sudah dikuasai dengan baik oleh anak.
4. Mempunyai waktu luang untuk Beraktifitas→anak yang mengikuti program ini akan mempunyai waktu luang untuk ikut beraktivitas dan berinteraksi diluar rumah dengan mengikuti kursus musik, ikut klub olah raga, aktif di kegiatan ibadah, dsb.
5. Anak Menjadi Percaya diri dan Mandiri→ program home schooling secara tidak langsung sangat membantu anak untuk lebih percaya diri, lebih mandiri karena tidak bergantung pada orang lain dibandingkan dengan anak-anak yang mengenyam pendididikan di sekolah umum.
Adapun persyaratan- persyaratan untuk mengikuti Program Home Schooling :
1. Kedua orang tua harus memiliki komitmen yang tinggi terhadap program yang akan diperuntukkan anaknya, karena konsep belajar dirumah memang tidak mudah, sehingga sangat dibutuhkan komitmen dan konsistensi dari orang tua, secara mendasar, salah satu orang tua harus berada dirumah, entah ibu atau ayah, karena anak membutuhkan pengaturan jadwal, pengawasan bahkan diskusi interaktif dengan orang tuanya.
2. Kedua orang tua harus mempunyai kesadaran dan dituntut untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya, sehingga proses belajar mengajar pada program home schooling mendapat kemudahan dan kenyamanan dengan komitmen kuat orang tua dapat memberi pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
3. Secara mendasar Kedua Orang tua harus terlebih dahulu menanamkan dulu dibenaknya arti hakiki konsep anak, dimana anak harus ditempatkan sebagai teman belajar, sementara orang tua sendiri harus menempatkan diri sebagai fasilitator.
4. Anak yang akan mengikuti program ini, dituntut untuk mempunyai kemampuan belajar sendiri, dimana anak juga dituntut untuk membaca dari buku teks yang tersedia layaknya disekolah umum. Dalam proses belajarnya, ada latihan yang harus di kerjakan, ada tes yang harus diselesaikan.
5. Pembelajaran dirumah harus mengacu pada standar kompetensi, agar bisa diikutkan dalam ujian kesetaraan yang sesuai dengan jenjang pengajaran dan usia anak masing-masing.
6. Orang tua harus memiliki financial yang cukup, karena untuk mengikuti program home Schooling dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
SOAL : Dra. Praharesti Eriany, Msi
1. Jelaskan dasar pandangan diselenggarakannya pendidikan inklusi dan sebutkan criteria anak berkebutuhan khusus bagaimana yang mungkin dilayani dalam pendidikan tersebut. Terkait dengan hal ini, apa saja yang perlu dipersiapkan oleh sekolah dalam penyelenggaraannya.
2. Jelaskan tentang tiga dimensi dalam teori atribusi, apa yang bias dilakukan guru untuk dapat meningkatkan motivasi anak berdasar pandangan teori tersebut? Sebutkan kelemahan dari pendekatan kognitif bila dibandingkan dengan pendekatan humanistic.
JAWABAN
1. Yang menjadi dasar pandangan diselenggarakannya pendidikan inklusi adalah semakin disadarinya adanya persamaan hak antara anak-anak yang berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal maka perlu dipertimbangkan untuk menggabungkan keduanya dalam kelas regular. Upaya ini merupakan suatu normalisasi untuk menyediakan lingkungan kehidupan anak-anak berkebutuhan khusus sedekat mungkin dengan anak-anak normal.
Kriteria-kriteria anak berkebutuhan khusus yang mungkin dilayani dalam pendidikan inklusi adalah sebagai berikut :
· Anak harus memiliki kecerdasan rata-rata dan hanya memiliki satu kebutuhan khusus.
Yang perlu dipersiapkan oleh sekolah dalam penyelenggaraannya adalah perlunya persiapan matang dalam hal asesment, intervensi, kesiapan pengelola sekolah dan guru kelas, pengelolaan kelas kecil, kesediaan learning support unit, kolaborasi dengan berbagai pihak terkait, dan kesiapan siswa lain disekolah.
Langkah- langkah dalam pendidikan Inklusi :
· Pengadaan asesmen, untuk melihat ada tidaknya masalah kesehatan atau fisik. Hal ini perlu ditangani , apabila tidak bias perlu menjadi perhatian guru. Disisi lain guru perlu mengetahui bagaimana potensi anak secara keseluruhan, termasuk pengukuran inteligensi. Data tes psikologis, observasi, wawancara, laporan terdahulu, tes prestasi dari guru, dianalisis secara menyeluruh baik secara kuantitatif maupun kualitatif untuk mengetahui kekurangan/ketidakmampuan anak.
· Perencanaan program, termasuk penyesuaian kurikulum. Penyesuaian sebaiknya memfokuskan pada kebutuhan anak dan bersifat fleksibel (adaptasi, adopsi, menciptakan). Pada beberapa kasus perlu dilakukan perencanaan Individualized Education Program (IEP). Perlu ditentukan strategi pengajaran yang diterapkan.
· Bentuk evaluasi yang tepat perlu direncanakan. Tujuannya untuk melihat tingkat keberhasilan dan melihat perlu tidaknya modifikasi.
2. Penjelasan dari 3 dimensi dalam teori atribusi :
1. Locus dimension ( lokus control eksternal dan internal ) ↔ dimensi ini dihubungkan pada individu yang cenderung beranggapan bahwa perilakunya didorong oleh factor-faktor diluar dirinya disebut mempunyai lokus control eksternal. Sedangkan mereka yang cenderung beranggapan bahwa perilakunya diakibatkan oleh daya-daya dalam dirinya sendiri disebut memiliki lokus control internal. Mereka yang terakhir ini dipandang lbih mandiri dan mau bertanggung jawab atas perilakunya.
Atribusi internal untuk sebuah keberhasilan juga memperbesar kemungkinan orang terlibat dalam tugas-tugas yang mengandung unsure prestasi di waktu yang akan dating. Konsekuensi ini terjadi apakah penyebabnya dapat dikendalikan, seperti usaha ataukah tidak dapat dikendalikan seperti kecerdasan.
2. Stability dimension (whether the cause stays the same or can change) ↔ sebagai contoh dari dimensi ini adalah harapan tentang masa depan, jika siwa menilai kegagalan mereka pada factor-faktor kelompok seperti kesulitan belajar, mereka merasa gagal dimasa depan. Tetapi jika mereka menilai hasil factor unstable seperti suasana hati atau keberuntungan, mereka dapat berharap hasil yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Pengaruh dimensi ini adalah pada pengharapan akan hasil diwaktu yang akan dating. Jika hasil tertentu dipercayai merupakan hasil hasil dari faktoryang stabil/mantap (seperti kemampuan), maka hasil sebelumnya akan dapat diprediksi. Namun sebaliknya atribusi pada penyebab yang tidak stabil (kemujuran atau usaha) menimbulkan suatu keraguan apakah hasil tersebut akan terulang kembali.
Dalam mempengaruhi pengharapan, dimensi ini tidak terkait dengan dua dimensi lain. Pengharapan subyek akan berhasil diwaktu yang akan dating setelah subyek mengalami keberhasilan sebelumnya menunjukkan bahwa meningkatnya pengharapan itu hanya berkaitan positif dengan sifat kemantapan.
Hubungan antara sifat yang stabil akan berpengaruh pada besarnya reaksi emosi. Kegagalan yang diatribusikan pada dua penyebab yang stabil ( kemampuan dan sulit tidaknya tugas ) menimbulkan apati, regsinasi (sikap sabar dan menerima saja ), dan depresi. Namun sebaliknya , emosi yang ditimbulkan oleh atribusi yang tidak mantap kemungkinannya tidak akan diteruskan sampai mengenai kejadian-kejadian dimasa yang akan dating.
3. The controllability dimension ( Whether the person can control the cause ) ↔ dimensi ini berhubungan dengan emosi seperti marah, sayang, bersyukur, atau malu. Jika kita merasa bertanggung jawab atas kegagalan kita, kita akan merasa bersalah, sebaliknya jika kita bertanggung jawab atas keberhasilan, kita merasa bangga. Ketika tidak dapat melakukan tugas akan merasa malu atau marah.
Ketika kegagalan diatribusikan dengan kemampuan yang kurang, dan kemampuan dianggap sebagai uncontrollable,rangkaian motivasi adalah :
kegagalan→kurangnya kemampuan→uncontrollable→bertanggung jawab→malu→kecewa→menarik diri→prestasi menurun,
Ketika kegagalan diatribusikan dengan kurangnya usaha, rangkai annya adalah :
Kegagalan→kurang usaha→kemampuan mengontrol→bertanggung jawab→rasa bersalah→komitmen→meningkatkan performance.
Dimensi pada mulanya disebut intensionalitas oleh Rosenbaum (1972). Suasana hati dikatakan tidak intensional (disengaja, diniatkan) dan suatu usaha dikatakan intensional. Weiner(1979) memberikan batasan kembali mengenai adanya perbedaan yang bersifat pokok seperti yang dilakukan nya berkenaan dengan soal pengontrolan, artinya jika seseorang gagal dia kurang berusaha maka itu tidak berarti ia berniat mau gagal. Perbedaan antara usaha dan suasana hati lebih merupakan suasana control atas kehendak daripada soal maksud, atau niat.
Seperti telah disinggung diatas, sifat terkndali atribusi menimbulkan berbagai emosi. Atribusi yang dikendalikan diri pribadi menimbulkan rasa mampu atau rasa salah, sedangkan atribusi yang dikuasai oleh orang lain menyebabkan diri berperasaan syukur atau marah. Soal pengendalian ini khususnya penting dalam situasi hubungan antar pribadi, dan itu mempengaruhi perilaku-perilaku menyukai, mengganjar dan menghukum, dan menolong orang.
Ketiga dimensi atribusi dapat dipaparkan dalam menentukan pengaruh atribusi berupa keberhasilan dan kegagalan.
Mantap
Tidak Mantap
Internal
Eksternal
Dapat Dikendalikan
Tidak Dapat Dikendalikan
Hasil yang positif
Terus berpengharapan berhasil
Rasa kebenggaan naik secara maksimum
Tidak menurunkan pengharapan berhasil
Kemungkinannya, emosi tidak berlanjut sampai ke situasi waktu yang akan datang
Menimbulkan rasa diri berharga yang positif
Meningkatkan kemungkinan orang mengerjakan tugas diwaktu yang akan datang
Tidak ada hubungan dengan citra diri
Menimbulkan rasa percaya diri
Menimbulkan rasa bersyukur
Terus berpengharapan gagal
Perasaan malu, apati, pasrah meningkat
Tidak ada penurunan pengharapan berhasil
Kemungkinannya, emosi tidak diteruskan sampai ke kejadian waktu yang akan datang
Menimbulkan rasa diri berharga yang negatif
Memperbesar kemungkinan orang menghindari tugas yang tekanaannya prestasi
Tidak ada hubungannya dengan citra diri
Menimbulkan perasaan bersalah
Menimbulkan perasaan
Mantap
Tidak Mantap
Internal
Dapat Dikendalikan
Hasil yang negetif
Eksternal
Tidak Dapat Dikendalikan
Gampang menimbulkan reaksi mengecam orang lain
Sering menimbulkan perbuatan yang mengaibkan dan mengharapkan bantuan orang lain
Yang bisa dilakukan guru untuk dapat meningkatkan motivasi anak berdasarkan pandangan teori diatas adalah dengan menumbuhkan dan mengembangkan motivasi intrinsic dengan menghubungkan minat siswa serta menghubungkan minat kompetensi, tetapi jika guru perlu mempertimbangkan motivasi intrinsic seluruh siswa guna memberi kekuatan pada semua siswa, maka hasilnya akan mengecewakan. Ada situasi dimana insentif dan dukungan eksternal diperlukan, sehingga keduanya saling mendukung, guru perlu membantu mengembangkan motivasi intrinsic siswa tetapi juga tetap memastikan bahwa motivasi ekstrinsik mendukung kegiatan belajar.
Adapun kelemahan dari pendekatan kognitif bila dibandingkan dengan pendekatan humanististik adalah: bahwa sebenarnya kedua pendekatan ini sama- sama menekankan pada sumber-sumber motivasi yang berasal dari dalam (intrinsic) namun kelemahannya dari pendekatan kognitif hanya menekankan pada perilaku yang tampak dan percaya perilaku ditentukan oleh bagaimana kita berpikir. Sedangkan pada pendekatan humanistik lebih menekankan pada need individu atau yang lebih dikenal dengan “self actualization” motivasi disini juga lebih menggali sumber-sumber dari dalam diri seperti kompetensi, harga diri, aoutonomi, dan aktualisasi diri.
Sabtu, 25 Oktober 2008
Sabtu, 13 September 2008
PSIKOLOGI INTELEGENSI
SOAL UJIAN PSIKOLOGI INTELEGENSI : Dr.St. Soejanto Sandjaja
( Pasca Psikologi UNIKA )
1. Bandingkan paling sedikit tiga hal antara Inteligensi Trarchic menurut Stenberg dengan Structure Of Intellect menurut Guilford
2. Jelaskan kaitan antara Inteligensi Intelektual (IQ) dengan inteligensi emosi, inteligensi spiritual (SQ) dan inteligensi Adversitas (AQ), Buatlah model atau
bagan teoritisnya.
JAWABAN
.
Inteligensi Triarchic ( Stenberg)
Stenberg, menggolongkan inteligensi berdasarkan proses kognisi yaitu bagaimana seseorang mengumpulkan dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah dan berperilaku inteligen.
Perilaku Inteligen Kontestual adalah produk dari:
- penerapan strategi berpikir
- mengatasi persoalan baru secara cepat dan kreatif
- beradaptasi terhadap lingkungan dengan cara menyeleksi dan membentuk kembali lingkungannya.
Menurut Stenberg ada 3 aspek Inteligensi Triarchic :
A. Inteligensi Komponenensial↔ kemampuan untuk berpikir secara abstrak, memproses informasi dan menentukan apa yang perlu dilakukan. Ada beberapa tugas untuk mengukur intelegen komponensial yaitu berpikir analogi, kosa kata, dan silogisme. Sedangkan komponen berdasarkan fungsinya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
- komponen metakognitif ; kemampuan untuk membuat perencanaan yang matang
- Komponen Performasi : kemampuan untuk mempersepsikan dan menyimpan informasi baru
- Komponen Penguasaan pengetahuan : kemampuan untuk memperoleh pengetahuan baru atau ilmu baru.
Berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi 2 :
- Komponen khusus : proses pengolahan informasi yang hanya tepat untuk satu jenis tugas saja,
- Komponen umum : proses pengolahan informasi yang cocok untuk setiap tugas kognisi.
B. Inteligensi Eksperensial ↔ kemampuan untuk merumuskan gagasan-gagasan baru dan mengkombinasikannya dengan fakta-fakta lain.
Ada dua karakteristik intelegensi eksperensial :
1. Insight : kemampuan untuk bekerja secara efaektif dalam situasi baru, missal berpikir kreatif dalam memecahkan masalah.
2. Otomatisasi : Kemampuan secara tepat berganti solusi baru secara langsung untuk menyelesaikan masalah rutin tanpa harus berpikir lama dan menggunakan banyak energi untuk berpikir lama dan menggunakan banyak energi untuk dulu.
C. Inteligensi Kontekstual ↔ kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah dan dapat memanfaatkan peluang secara maksimal dengan cara menciptakan atau membentuk kembali lingkunanya. Kemampuan ini berkaitan erat dengan kesiapan seseorang untuk memecahkan masalah dalam situasi khusus.
Structure Of Intellect ( Guilford )
Model Struktur Intelek Menurut Guilford, Mengklasifikasikan sifat-sifat intelektual dalam 3 dimensi :
1. Operasi ↔ apa yang dilakukan responden , ini meliputi kognisi, perekaman ingatan, penahanan ingatan, produksi divergen ( yang menonjol dalam kegiatan kreataif), produksi kovergen, dan evaluasi
2. Content ↔ Hakekat materi atau informasi dijalankan, ini meliputi segi visual, pendengaran, simbolis, (huruf,angka) semantic, dan perilaku ( informasi tentang perilaku, sikap, kebutuhan orang lain, dsb)
3. Produk ↔ bentuk dimana informasi diproses oleh responden, produk-produk diklarifikasikan menjadi unit, kelas relasi, system, transformasi, dan implikasi.
Meskipun telah di rancang dalam model Struktur intelek, model ini sendiri memiliki dampak yang kecil terhadap pengembangan dan aplikasi tes penggunaan umum. Seharusnya model ini seperti semua model yang lain, memberikan satu skema untuk merepresentasikan korelasi yang diperoleh diantara variable-variabel.
Pengaruh yang langsung yang positif dari model stuktur intelek adalah memusatkan perhatian dan pembedaan antara operasi dan isi dalam identifikasi factor-faktor, pembedaan ini telah membantu dalam menjernihkan baik factor-faktor yang diidentifikasi melalui analisa factor dan proses –proses yang diselidiki melalui psikologi kognitif.
2. Kaitan antara Intelegensi Intelektual (IQ) dengan Inteligensi Emosi (EQ), Intelegensi Spriritual (SQ) dan Intelegensi Adversitas (AQ), dengan membuat model teoritisnya.
Ada macam-macam kecerdasan yang sering menjadik topic menarik untuk dibahas, namun focus yang di telaah disini adalah Empat kecerdasan yang saling berkorelasi satu dengan yang lain. Kita akan mencoba membahas satu persatu dari empat intelegensi yang saling berkaitan :
1. Intelegensi Intelektual (IQ) dengan Intelegensi Emosi (EQ)
Masyarakat umum memandang IQ sebagai singkatan dari intelegensi, yang sebenarnya intelegensi intelektual memiliki pengertian kemampuan menggunakan konsep abstrak dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap situasi secara cepat dan efektif, sedangkan IQ sendiri merupakan satu indeks tingkat relative kecemerlangan individu, IO disini merupakan ekspresi dari tingkat kemampuan individu pada saat tertentu, berkaitan dengan norma usia tertentu, Sedangkan Pengertian Intelegensi Emosi adalah Kemampuan individu untuk mencapai tingkat kedewasaan dan dari perkembangan emosionalnya, Sedangkan EQ merupakan definisi dasar dari efektifitas dan hubungan kausalitas antara upaya dan hasil. Kaitan antara kedua intelegensi ini adalah adanya keunggulan kekuatan dari IQ dan EQ manusia. Secara rasional ternyata kecerdasan emosi (EQ) mempunyai keunggulan jauh lebih tinggi disbanding dengan kecerdasan otak (IQ) dalam hal berkompetisi. Bila dihubungkan dengan dunia pendidikan selama ini, lebih cenderung menekankan pada pentingnya akademik atau pada kecerdasan otak, masih langka kecerdasan emosi yang mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, kreatifitas, ketahanan mental, distimulasi pada anak didik disekolah. Alangkah bijaksananya apabila dua kecerdasan ini dimunculkan secara seimbang pada dunia pendidikan, karena dari sinilah akan menghasilkan individu-individu yang berkarakter baik karena ditunjan oleh dua kecerdasan intele=ktual dan emosi.
2. Intelegensi Spiritual (SQ) dan Intelegensi Adversitas (AQ)
Intelegensi Spiritual diawali dengan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup manusia, suatu jaringan syaraf yang secara literal “mengikat” pengalaman manusia secara bersama untuk “hidup lebih bermakna. Pada GOD spot inilah sebenarnya terdapat kemurnian manusia yang terdalam. SQ tidak mesti berhubungan dengan agama, sebagian orang SQ mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama tetapi beragama tidak menjamin SQ sangat tinggi. SQ sendiri memiliki makna sebagai fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memunkinkan otak manusia menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Kecerdan spiritual ini disebut sebagai kecerdasan Jiwa, yang membantu manusia membangun diri secara utuh. Sedangkan Intelegensi Adversitas (AQ) memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk mengatasi kesulitan dan mempunyai daya juang yang tinggi, disini ketika individu dihadapakan pada kesulitan dan hambatan, karena dia mempunyai kecerdasan adversitas, maka akan menganggap hambatan tersebut sebagai tantang dan peluang untuk mampu mengubah hambatan mnuju puncak keberhasilan. Adapun kaitan antara Intelegensi Spiritual(SQ) dan Intelegensi Adversitas adalah pada kecerdasan yang berhubungan dengan Jiwa dimana dua kedua kecerdasan ini mempunyai pemaknaanyang bersumber dari diri yang paling dalam yaitu adanya kesadaran akan pemaknaan nilai-nilai hidup yang lebih mendalam.
Model Hubungan antara IQ, EQ, AQ, SQ dan Tuhan
(GAMBAR TAK TAMPAK)
SOAL : Dra. Praharesti Erianty, MSi
1. Jelaskan tentang dinamika perkembangan intelegensi sepanjang rentang kehidupan manusia. Bagaimana upaya perkembangannya untuk tahap perkembangan anak-anak, remaja, dan dewasa ?
2. Konsep tentang Multiple Intllibence banyak memberikan manfaat dalam dunia pendidikan, jelaskan. Walaupun demikian guru juga sering menghadapi kendala dalam upaya memberikan perhatian pada keunikan masing-masing siswa. Bagaimana solusinya menurut Bapak?Ibu ?
JAWABAN
1. Pada dinamika perkembangan intelegensi sepanjang rentang kehidupan manusia telah memberikan suatu fenomena kecerdasan manusia. Diakui adanya suatu perbedaan perkembangan kecepatan dan kesempurnaan manusia dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi, sehingga hal tersebut memperkuat pendapat perkembangan intelegensi memang berbeda-beda pada setiap orang, dimana seorang yang mempunyai taraf inteligensi yang lebih tinggi akan memiliki kecenderungan untuk memecahkan masalah yang sama bila dibandingkan dengan seseorang yang memiliki taraf inteligensi yang jauh lebih rendah. Perbedaan inteligensi setiap orang bukan terletak pada kualitas inteligensi itu sendiri, tetapi terletak pada tarafnya. Dalam artian lain bahwa seseorang yang tidak bias memecahkan masalah atau persoalan yang semudah-mudahnya juga memiliki inteligensi hanya tarafnya rendah.
Dalam perkembangan kepribadian manusia terdapat banyak aspek, inteligensi merupakan salah satu aspek penting bagi setiap aktivitas dan penghayatan manusia, disini inteligensi selalu memegang peranan. Urgesi untuk membuat diagnosa dari dinamika perkembangan psikologis pada umumnya dan khususnya pada inteligensi timbul kenyataan bahwa manusia satu sama lain berbeda. Maka adalah urgen untuk memahami manusia itu menurut apa adanya, manusia sebagai pribadi yang berbeda dengan dunianya masing-masing. Dan karena inteligensi itu berperanan dalam setiap aktivitas dan penghayatan hidup manusia , maka sangat penting membuat diagnosa dari dinamika perkembangan manusia.
Adapun upaya pengembangannya untuk tahap perkembangan anak-anak, remaja dan dewasa;
Upaya tahap perkembangan pada hakekatnya adalah dengan penuh tanggung jawab memberikan bimbingan kepada perkembangan anak-anak menuju remaja hingga dewasa. Secara ideal masing-masing anak harus diperlakukan menurut sifat khas anak tersebut, tanpa mengabaikan proses sosialisasi diantara teman sebayanya. Untuk upaya pengembangan ini diperlukan pemahaman mengenai masing-masing anak khususnya untuk inteligensinya yang merupakan salah satu aspek penting dalam kepribadiannya.. Banyak masalah yang mungkin timbul dalam upaya pengembanganya untuk anak-anak sampai pada tahap remaja menuju dewasa , namun penyelesaiannya akan efektif apabila bertolak dari pengetahuan mengenai inteligensi anak-anak tersebut. Beberapa masalah –masalah yang dapat saja terjadi dalam upaya tahap perkembangan anak-anak ke remaja dan meuju dewasa adalah :
- Bagaimana melihat struktur mental anak-anak, remaja, dan dewasa
- Bagaimana struktur mental itu berubah-ubah dengan bertambahnya usia
- Bagaimana perbedaan struktur mental anata orang normal, kurang normal, dan lebih dari normal
- Apakah seseorang itu sesorang itu dalam hal inteligensi akan tetap pada kelompok tertentu ataukah dia akan berubah (berpindah dari kelompok yang satu kekelompok yang lain)
2. Konsep tentang Multiple Intelligence banyak memberikan manfaat dalam bidang pendidikan karena dengan kecerdasan majemuk (MI) secara tidak langsung menyukseskan penerapan system pembelajaran kurikulum berbasis kompetensi disekolah-kolah pada umumnya. Konsep kecerdasan majemuk secara menarik dan praktis telah menunjukkan secara jelas bagaimana rumusan kompetensi yang harus dimilik atau ditampilkan siswa dan bagai kompetensi belajar bias dicapai dengan cara sangat menyenangkan (sesuai dengan karakter dan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap siswa). Disisilain Kecerdasan Majemuk (MI) mendorong terjadinya pembaharuan yang berkesinambungan dalam bidang pendidikan, yaitu :
- Sebagai pemandu praktis teori kecerdasan majemuk bagi pendidik yang mau mendalami konsep kecerdasan majemuk
- Sebagai pendukung bagi para guru yang sedang menjalani pelatihan disekolah-sekolah kependidikan
- Sebagai pedoman pengajaran bagi kelompok guru dan pendidik lain yang mencari gagasan-gagasan baru untuk memperkaya pengalaman mengajar mereka.
Solusi yang mungkin diberikan oleh guru yang sering menghadapi kendala dalam upaya memberikan perhatian pada keunikan masing-masing siswa adalah :
- perlunya perhatian dan pemahaman dari guru bahwa setiap siwa atau murid mempunyai minat dan kemampuan yang tidak sama pada pelajaran.
- Guru tidak perlu khawatir apabila ada muridnya yang dirasa mempunyai kelemahan dalam mempelajarai matematika, bahasa atau mata pelajaran yang lain, pertama dimungkinkan murid memiliki satu atau dua kecerdasan yang belum terdeteksi, kedua, ada kemungkinan cara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak bias dikuasai oleh murid tersebut tidak tepat atau tidak cocok dengan karakter si muriddan yang ketiga kemungkinan minat si murid terhadap mata pelajaran tersebut menurun drastis. Untuk mengatasi problem yang muncul sebaiknya guru memberikan contoh atau biografi orang-orang yang berprestasi yang sangat dimungkinkan akan memunculkan minat belajar mereka walaupun itu harus dengan empati yang diberikan oleh guru pada muridnya.
- Guru sebaiknya tidak membatasi seorang siswa hanya dengan satu wilayah kecerdasan, namun akan lebih baik jika guru bias menstimulasi kecerdasan –kecerdasan yang tampak menonjol pada setiap siswa.
- Guru bisa membuat atau menggunakan check list penilaiankecerdasan majemuk siswa untuk digunakan secara informal bersama dengan sumber informasi penilaian lain ketika melihat kecerdasan majemuk yang dimiliki siswa. Guru sebaiknya menyediakan buku catatan, buku harian atau agenda dimeja untuk mencatat pengamatan ini.
- Guru bias melakukan diskusi dengan guru yang lain, bagaimana memberikan mata pelajaran yang menarik dan kreatif sehingga semua siswa menjadi berminat terhadap pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut.
Mahasiswa : Saptorini Retnosari
Program Pasca Psikologi Pendidikan
( Pasca Psikologi UNIKA )
1. Bandingkan paling sedikit tiga hal antara Inteligensi Trarchic menurut Stenberg dengan Structure Of Intellect menurut Guilford
2. Jelaskan kaitan antara Inteligensi Intelektual (IQ) dengan inteligensi emosi, inteligensi spiritual (SQ) dan inteligensi Adversitas (AQ), Buatlah model atau
bagan teoritisnya.
JAWABAN
.
Inteligensi Triarchic ( Stenberg)
Stenberg, menggolongkan inteligensi berdasarkan proses kognisi yaitu bagaimana seseorang mengumpulkan dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah dan berperilaku inteligen.
Perilaku Inteligen Kontestual adalah produk dari:
- penerapan strategi berpikir
- mengatasi persoalan baru secara cepat dan kreatif
- beradaptasi terhadap lingkungan dengan cara menyeleksi dan membentuk kembali lingkungannya.
Menurut Stenberg ada 3 aspek Inteligensi Triarchic :
A. Inteligensi Komponenensial↔ kemampuan untuk berpikir secara abstrak, memproses informasi dan menentukan apa yang perlu dilakukan. Ada beberapa tugas untuk mengukur intelegen komponensial yaitu berpikir analogi, kosa kata, dan silogisme. Sedangkan komponen berdasarkan fungsinya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
- komponen metakognitif ; kemampuan untuk membuat perencanaan yang matang
- Komponen Performasi : kemampuan untuk mempersepsikan dan menyimpan informasi baru
- Komponen Penguasaan pengetahuan : kemampuan untuk memperoleh pengetahuan baru atau ilmu baru.
Berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi 2 :
- Komponen khusus : proses pengolahan informasi yang hanya tepat untuk satu jenis tugas saja,
- Komponen umum : proses pengolahan informasi yang cocok untuk setiap tugas kognisi.
B. Inteligensi Eksperensial ↔ kemampuan untuk merumuskan gagasan-gagasan baru dan mengkombinasikannya dengan fakta-fakta lain.
Ada dua karakteristik intelegensi eksperensial :
1. Insight : kemampuan untuk bekerja secara efaektif dalam situasi baru, missal berpikir kreatif dalam memecahkan masalah.
2. Otomatisasi : Kemampuan secara tepat berganti solusi baru secara langsung untuk menyelesaikan masalah rutin tanpa harus berpikir lama dan menggunakan banyak energi untuk berpikir lama dan menggunakan banyak energi untuk dulu.
C. Inteligensi Kontekstual ↔ kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah dan dapat memanfaatkan peluang secara maksimal dengan cara menciptakan atau membentuk kembali lingkunanya. Kemampuan ini berkaitan erat dengan kesiapan seseorang untuk memecahkan masalah dalam situasi khusus.
Structure Of Intellect ( Guilford )
Model Struktur Intelek Menurut Guilford, Mengklasifikasikan sifat-sifat intelektual dalam 3 dimensi :
1. Operasi ↔ apa yang dilakukan responden , ini meliputi kognisi, perekaman ingatan, penahanan ingatan, produksi divergen ( yang menonjol dalam kegiatan kreataif), produksi kovergen, dan evaluasi
2. Content ↔ Hakekat materi atau informasi dijalankan, ini meliputi segi visual, pendengaran, simbolis, (huruf,angka) semantic, dan perilaku ( informasi tentang perilaku, sikap, kebutuhan orang lain, dsb)
3. Produk ↔ bentuk dimana informasi diproses oleh responden, produk-produk diklarifikasikan menjadi unit, kelas relasi, system, transformasi, dan implikasi.
Meskipun telah di rancang dalam model Struktur intelek, model ini sendiri memiliki dampak yang kecil terhadap pengembangan dan aplikasi tes penggunaan umum. Seharusnya model ini seperti semua model yang lain, memberikan satu skema untuk merepresentasikan korelasi yang diperoleh diantara variable-variabel.
Pengaruh yang langsung yang positif dari model stuktur intelek adalah memusatkan perhatian dan pembedaan antara operasi dan isi dalam identifikasi factor-faktor, pembedaan ini telah membantu dalam menjernihkan baik factor-faktor yang diidentifikasi melalui analisa factor dan proses –proses yang diselidiki melalui psikologi kognitif.
2. Kaitan antara Intelegensi Intelektual (IQ) dengan Inteligensi Emosi (EQ), Intelegensi Spriritual (SQ) dan Intelegensi Adversitas (AQ), dengan membuat model teoritisnya.
Ada macam-macam kecerdasan yang sering menjadik topic menarik untuk dibahas, namun focus yang di telaah disini adalah Empat kecerdasan yang saling berkorelasi satu dengan yang lain. Kita akan mencoba membahas satu persatu dari empat intelegensi yang saling berkaitan :
1. Intelegensi Intelektual (IQ) dengan Intelegensi Emosi (EQ)
Masyarakat umum memandang IQ sebagai singkatan dari intelegensi, yang sebenarnya intelegensi intelektual memiliki pengertian kemampuan menggunakan konsep abstrak dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap situasi secara cepat dan efektif, sedangkan IQ sendiri merupakan satu indeks tingkat relative kecemerlangan individu, IO disini merupakan ekspresi dari tingkat kemampuan individu pada saat tertentu, berkaitan dengan norma usia tertentu, Sedangkan Pengertian Intelegensi Emosi adalah Kemampuan individu untuk mencapai tingkat kedewasaan dan dari perkembangan emosionalnya, Sedangkan EQ merupakan definisi dasar dari efektifitas dan hubungan kausalitas antara upaya dan hasil. Kaitan antara kedua intelegensi ini adalah adanya keunggulan kekuatan dari IQ dan EQ manusia. Secara rasional ternyata kecerdasan emosi (EQ) mempunyai keunggulan jauh lebih tinggi disbanding dengan kecerdasan otak (IQ) dalam hal berkompetisi. Bila dihubungkan dengan dunia pendidikan selama ini, lebih cenderung menekankan pada pentingnya akademik atau pada kecerdasan otak, masih langka kecerdasan emosi yang mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, kreatifitas, ketahanan mental, distimulasi pada anak didik disekolah. Alangkah bijaksananya apabila dua kecerdasan ini dimunculkan secara seimbang pada dunia pendidikan, karena dari sinilah akan menghasilkan individu-individu yang berkarakter baik karena ditunjan oleh dua kecerdasan intele=ktual dan emosi.
2. Intelegensi Spiritual (SQ) dan Intelegensi Adversitas (AQ)
Intelegensi Spiritual diawali dengan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup manusia, suatu jaringan syaraf yang secara literal “mengikat” pengalaman manusia secara bersama untuk “hidup lebih bermakna. Pada GOD spot inilah sebenarnya terdapat kemurnian manusia yang terdalam. SQ tidak mesti berhubungan dengan agama, sebagian orang SQ mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama tetapi beragama tidak menjamin SQ sangat tinggi. SQ sendiri memiliki makna sebagai fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memunkinkan otak manusia menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Kecerdan spiritual ini disebut sebagai kecerdasan Jiwa, yang membantu manusia membangun diri secara utuh. Sedangkan Intelegensi Adversitas (AQ) memiliki pengertian kemampuan seseorang untuk mengatasi kesulitan dan mempunyai daya juang yang tinggi, disini ketika individu dihadapakan pada kesulitan dan hambatan, karena dia mempunyai kecerdasan adversitas, maka akan menganggap hambatan tersebut sebagai tantang dan peluang untuk mampu mengubah hambatan mnuju puncak keberhasilan. Adapun kaitan antara Intelegensi Spiritual(SQ) dan Intelegensi Adversitas adalah pada kecerdasan yang berhubungan dengan Jiwa dimana dua kedua kecerdasan ini mempunyai pemaknaanyang bersumber dari diri yang paling dalam yaitu adanya kesadaran akan pemaknaan nilai-nilai hidup yang lebih mendalam.
Model Hubungan antara IQ, EQ, AQ, SQ dan Tuhan
(GAMBAR TAK TAMPAK)
SOAL : Dra. Praharesti Erianty, MSi
1. Jelaskan tentang dinamika perkembangan intelegensi sepanjang rentang kehidupan manusia. Bagaimana upaya perkembangannya untuk tahap perkembangan anak-anak, remaja, dan dewasa ?
2. Konsep tentang Multiple Intllibence banyak memberikan manfaat dalam dunia pendidikan, jelaskan. Walaupun demikian guru juga sering menghadapi kendala dalam upaya memberikan perhatian pada keunikan masing-masing siswa. Bagaimana solusinya menurut Bapak?Ibu ?
JAWABAN
1. Pada dinamika perkembangan intelegensi sepanjang rentang kehidupan manusia telah memberikan suatu fenomena kecerdasan manusia. Diakui adanya suatu perbedaan perkembangan kecepatan dan kesempurnaan manusia dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi, sehingga hal tersebut memperkuat pendapat perkembangan intelegensi memang berbeda-beda pada setiap orang, dimana seorang yang mempunyai taraf inteligensi yang lebih tinggi akan memiliki kecenderungan untuk memecahkan masalah yang sama bila dibandingkan dengan seseorang yang memiliki taraf inteligensi yang jauh lebih rendah. Perbedaan inteligensi setiap orang bukan terletak pada kualitas inteligensi itu sendiri, tetapi terletak pada tarafnya. Dalam artian lain bahwa seseorang yang tidak bias memecahkan masalah atau persoalan yang semudah-mudahnya juga memiliki inteligensi hanya tarafnya rendah.
Dalam perkembangan kepribadian manusia terdapat banyak aspek, inteligensi merupakan salah satu aspek penting bagi setiap aktivitas dan penghayatan manusia, disini inteligensi selalu memegang peranan. Urgesi untuk membuat diagnosa dari dinamika perkembangan psikologis pada umumnya dan khususnya pada inteligensi timbul kenyataan bahwa manusia satu sama lain berbeda. Maka adalah urgen untuk memahami manusia itu menurut apa adanya, manusia sebagai pribadi yang berbeda dengan dunianya masing-masing. Dan karena inteligensi itu berperanan dalam setiap aktivitas dan penghayatan hidup manusia , maka sangat penting membuat diagnosa dari dinamika perkembangan manusia.
Adapun upaya pengembangannya untuk tahap perkembangan anak-anak, remaja dan dewasa;
Upaya tahap perkembangan pada hakekatnya adalah dengan penuh tanggung jawab memberikan bimbingan kepada perkembangan anak-anak menuju remaja hingga dewasa. Secara ideal masing-masing anak harus diperlakukan menurut sifat khas anak tersebut, tanpa mengabaikan proses sosialisasi diantara teman sebayanya. Untuk upaya pengembangan ini diperlukan pemahaman mengenai masing-masing anak khususnya untuk inteligensinya yang merupakan salah satu aspek penting dalam kepribadiannya.. Banyak masalah yang mungkin timbul dalam upaya pengembanganya untuk anak-anak sampai pada tahap remaja menuju dewasa , namun penyelesaiannya akan efektif apabila bertolak dari pengetahuan mengenai inteligensi anak-anak tersebut. Beberapa masalah –masalah yang dapat saja terjadi dalam upaya tahap perkembangan anak-anak ke remaja dan meuju dewasa adalah :
- Bagaimana melihat struktur mental anak-anak, remaja, dan dewasa
- Bagaimana struktur mental itu berubah-ubah dengan bertambahnya usia
- Bagaimana perbedaan struktur mental anata orang normal, kurang normal, dan lebih dari normal
- Apakah seseorang itu sesorang itu dalam hal inteligensi akan tetap pada kelompok tertentu ataukah dia akan berubah (berpindah dari kelompok yang satu kekelompok yang lain)
2. Konsep tentang Multiple Intelligence banyak memberikan manfaat dalam bidang pendidikan karena dengan kecerdasan majemuk (MI) secara tidak langsung menyukseskan penerapan system pembelajaran kurikulum berbasis kompetensi disekolah-kolah pada umumnya. Konsep kecerdasan majemuk secara menarik dan praktis telah menunjukkan secara jelas bagaimana rumusan kompetensi yang harus dimilik atau ditampilkan siswa dan bagai kompetensi belajar bias dicapai dengan cara sangat menyenangkan (sesuai dengan karakter dan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap siswa). Disisilain Kecerdasan Majemuk (MI) mendorong terjadinya pembaharuan yang berkesinambungan dalam bidang pendidikan, yaitu :
- Sebagai pemandu praktis teori kecerdasan majemuk bagi pendidik yang mau mendalami konsep kecerdasan majemuk
- Sebagai pendukung bagi para guru yang sedang menjalani pelatihan disekolah-sekolah kependidikan
- Sebagai pedoman pengajaran bagi kelompok guru dan pendidik lain yang mencari gagasan-gagasan baru untuk memperkaya pengalaman mengajar mereka.
Solusi yang mungkin diberikan oleh guru yang sering menghadapi kendala dalam upaya memberikan perhatian pada keunikan masing-masing siswa adalah :
- perlunya perhatian dan pemahaman dari guru bahwa setiap siwa atau murid mempunyai minat dan kemampuan yang tidak sama pada pelajaran.
- Guru tidak perlu khawatir apabila ada muridnya yang dirasa mempunyai kelemahan dalam mempelajarai matematika, bahasa atau mata pelajaran yang lain, pertama dimungkinkan murid memiliki satu atau dua kecerdasan yang belum terdeteksi, kedua, ada kemungkinan cara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak bias dikuasai oleh murid tersebut tidak tepat atau tidak cocok dengan karakter si muriddan yang ketiga kemungkinan minat si murid terhadap mata pelajaran tersebut menurun drastis. Untuk mengatasi problem yang muncul sebaiknya guru memberikan contoh atau biografi orang-orang yang berprestasi yang sangat dimungkinkan akan memunculkan minat belajar mereka walaupun itu harus dengan empati yang diberikan oleh guru pada muridnya.
- Guru sebaiknya tidak membatasi seorang siswa hanya dengan satu wilayah kecerdasan, namun akan lebih baik jika guru bias menstimulasi kecerdasan –kecerdasan yang tampak menonjol pada setiap siswa.
- Guru bisa membuat atau menggunakan check list penilaiankecerdasan majemuk siswa untuk digunakan secara informal bersama dengan sumber informasi penilaian lain ketika melihat kecerdasan majemuk yang dimiliki siswa. Guru sebaiknya menyediakan buku catatan, buku harian atau agenda dimeja untuk mencatat pengamatan ini.
- Guru bias melakukan diskusi dengan guru yang lain, bagaimana memberikan mata pelajaran yang menarik dan kreatif sehingga semua siswa menjadi berminat terhadap pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut.
Mahasiswa : Saptorini Retnosari
Program Pasca Psikologi Pendidikan
Langganan:
Postingan (Atom)
